Liburan ke China Utara (Part 2)

Menunggu waktu liburan selama 6 bulan sebenarnya bukanlah waktu yang lama.
Karena…
Dilakukan sambil menabung. Mengumpulkan uang untuk biaya liburannya.

Jadi membeli tiket di saat promo untuk penerbangan yang masih jauh ke depan adalah pas banget untuk kita yang memiliki anggaran terbatas. Kita siapkan aja uang tiketnya dulu. Lalu setiap bulan kita mulai menabung untuk biaya liburannya, plus visa sampe saat liburan tiba. Langsung aja asumsikan biaya yang kita butuhkan (bisa didapat dari blog pengalaman orang atau buku panduan wisata).
Di kasus ini misalnya, aku cuma punya uang 2,5 juta untuk ke China. Langsung deh berburu tiketnya yang seharga itu. Dengan asumsi biaya ke China plus visa sebesar 5 Juta, aku harus nabung 850ribu perbulan selama 6 bulan.

Dengan cara kek gini jadi ga begitu berasa ngeluarin duitnya. Coba kalo liburannya mendadak, kan harus sedia uang 7,5 juta. Rasa-rasanya sayang kan kalo segitu.

Menyusun Itinerary

Seperti biasa ya, prinsip orang susah, ga mau rugi, Itinerary harus dibuat sepadat-padatnya, semaksimal tenaga yang kita punya selama 7 hari di China.
Si Dimas yang bertugas bikin kek beginian, sumbernya ya dari blog-blog catatan perjalanan orang dan buku panduan.
Puji tuhan sekali ya dengan blog-blog yang orang buat itu, sangat informatif, sangat memudahkan backpacker.
Buku panduannya aku beli di Gramedia, aku beli karena judulnya menarik sih, hehe.

Kalo mau lengkap Itinerary kami lihat aja di blog dimas ya http://www.dimasagungnugraha.blogspot.com

Image

Nih buku harganya 30 ribuan

Mengajukan Visa China

Ini momen yang aku tunggu-tunggu, pengalaman bikin visa sendiri. Selama ini Cuma bisa ngiler saat bantuin bos bikin visa Amerika, Inggris, dsb.
Visa Wisata China ini termasuk yang gampang banget dapetnya dibanding negara-negara lain. Syarat-syaratnya pun standar banget:
1. Paspor asli yang masih berlaku min. 6 bulan, serta fotokopinya.
2. Pas foto 4×6 latar hitam putih
3. Fotokopi KTP
4. Fotokopi tiket pesawat
5. Fotokopi reservasi hotel a.n. pemohon.
6. Itinerary
7. Mengisi Formulir permohonan

Gampang kan! Ga perlu undangan dari temen/saudara yang di China ataupun fotokopi rekening koran yang harus juta-jutaan. Formulir yang harus diisi pun Cuma 4 lembar, dan ga ada riwayat pendidikan atau pekerjaan kayak visa Amerika.
Memang ya kalo kita sesama orang Asia itu lebih terasa bersaudara. Haha.
Lokasi visa centernya ada di Mega Kuningan, Jakarta.
Tempatnya nyaman banget, ga begitu ngantri karena counternya banyak banget. A la a la di Bank gitu.

Image

Ga perlu wawancara cas cis cus. Dan dalam 4 hari visa sudah tertera di paspor anda.
Total biaya bikin visa untuk turis yang sekali kunjungan (maximal 30 hari) adalah 540ribu.
Kalo liburannya mendadak, ada juga visa yang ekspres, bisa 1 hari jadi. Ya tapi harganya lebih mahal, 900 atau 1 juta gitu.

Nah saat membuat visa inilah, kami, yang awalnya bertiga saja liburannya, ketambahan satu orang yang-ga –terlalu-penting-tapi-karena-ia-baru-melewati-hal-yang-pedih, akhirnya kami terima dengan lapang dada untuk pergi liburan bersama. Jangan sedih ia dapet tiket harga 4 juta PP. Beda 1,5 aja.

Berburu Pakaian Musim Dingin

Ngecek prakiraan suhu di China ternyata nanti pas 4 – 10 Maret suhu sekitar 0 – 9° C. Artinya masih dingin kayak di kulkas. Dan harus sediakan alat perang agar nanti masih bisa ngeksis kemana-mana ga Cuma tiduran di hotel karena kedinginan. Karena ini pertama kalinya kami akan mengalami winter, jadi semangatnya luar biasa untuk belanja perlengkapan ini:
1. Long john. Pakaian dalam thermal yang harus wajib dipakai. Kalo ga bisa mati kita.
2. Sarung tangan dan kaus kaki wool. Jangan yang biasa ya, dinginnya nembus banget.
3. Syal dan kupluk. Eh kalo kamu gendut ga perlu kupluk ya, biarin aja kepala agak dingin daripada kelihatan makin bulet.
4. Jaket tebel bulu-bulu. Ah ini wajib cari yang sebagus mungkin karena kita akan eksis pake ini. Percaya deh saat winter jaket ini ga berani dilepas.
Di Jakarta, harga yang masuk akal untuk semua ini ada di Mangga Dua. Perintilan 1-3 itu ada banget di Toko Djohan Pasar Pagi Mangga Dua. Kalo jaket sih ga mesti di toko djohan, toko lain di deket-deketnya juga banyak.
Nah untuk jaket juga, kalo budget bener-bener terbatas dan ga masalah dengan pakaian bekas, cari aja di Pasar Senen. Lokasinya bukan di gedung yang baru itu ya, tapi di bawah yang udah jelek banget sebelum kue pagi. Harga jaket di situ 50 – 100 ribu. Itu masih bagus-bagus loh, bandingin aja dengan di mangga dua yang paling murah 400 ribu.

Kesimpulannya adalah, liburan di musim dingin memaksamu mengeluarkan uang lebih banyak.

haha.

 

Liburan ke China Utara (Part 1)

Image

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China

Sering ga denger kalimat itu dari kita kecil? Banget kan.

Entahlah itu China diumpamakan negeri yang jauh di sana atau karena dari dulu pedagang-pedagang China udah oke banget jualan kayak koko-koko mangga dua sehingga semua orang pengin nuntut ilmu di sana? Atau emang kebudayaan China yang legendaris membuat orang takjub dengannya? Whatever.

Aku sendiri juga dari kecil ga pernah sama sekali kepikiran untuk ke China, boro-boro ya, ke luar negeri yang deket aja ga kepikir, ya tinggal di Lubuklinggau yang dari Palembang pun udah 7 jam, itu setiap liburan ke palembang pun udah seneng, apalagi kalo ke tempat mbahku di Kulon Progo, Yogya, udah berasa naik haji aja.

Tapi, setelah aku tinggal di Jakarta, ke luar negeri itu rasanya gampang banget, remeh temeh deh. Bikin Paspor tanpa calo udah ga ribet, 4 hari jadi, dan Cuma 275 ribu untuk 5 tahun. Masih bilang mahal? Masih bilang birokrasi Indonesia menyedihkan?! Kalo ke ASEAN doang hampir semua udah direct flight, trus penerbangan LCC (Air asia, jetstar, mandala tiger) promonya udah kayak bagi-bagi brosur motor DP 500 ribu. Jangan sedih walau Jetstar itu LCC waktu aku pulang dari Singapur sepesawat sama Najwa Shihab loh, haha penting. Nah hasilnya adalah setelah aku 8 tahun di Jakarta, hmm baru sedikit sih, baru EMPAT kali ke Singapur, EMPAT ya inget, haha, sekali mampir ke Johor Bahru Malaysia, dan sekali ke Phuket dan Bangkok, Thailand.

Setelah dari Thailand bulan Maret 2013, trus Meinya ke Singapur, mulailah terpikir untuk berdarma wisata ke luar ASEAN. Bagiku yang menarik di ASEAN cuma Singapur dan Thailand sih, Malaysia agak lah ya, tapi negara di luar itu,,,sampah.

Selain alasan pengin keluar ASEAN, aku juga pengin punya visa di dalam pasporku, biar keren aja sih paspornya, haha. Mulailah mengerucut ke 3 negara tujuan, China, Jepang, dan Korea. Setelah dihitung-hitung negara yang paling murah tiket ke sananya serta biaya hidupnya adalah China. Ya udah deh aku pilih China. Ga ribet kan aku, memilih dengan filter duit saja. Sederhana. Boleh kan berarti kalo aku update profil about me dengan kata yang pasaran banget “simplicity”?😀 Ada tuh temen yang ngakunya simple tapi makan di pinggir jalan aja ga mau, jalan sedikit aja capek maunya naxi walo Cuma selemparan tali kutang, sok cantik. Jadi emosi kan.

Sebelum berburu tiket pesawat, tentuin dulu kota yang mau dikunjungi apa aja, berhubung ke China jadi tujuan utama pasti Great Wall lah ya, yang lain aku ga ada yang tau. Great Wall kan di Beijing, jadi mulailah browsing-browsing tempat wisata apa aja di Beijing dan kota-kota apa aja yang menarik di China yang mudah digapai dari Beijing.

Prinsip orang susah, kalo liburan ke satu negara yang tiketnya lumayan mahal harus minimal ke 2 kota, sayang harga tiketnya loh kalo Cuma berkunjung ke satu kota trus langsung balik ke Indonesia. Jadi harus ditentuin dari awal kota apa aja karena nanti beli tiketnya adalah Jakarta – kota 1 dan kota 2 – Jakarta. Kayak waktu ke Thailand, beli tiketnya jakarta – Phuket dan Bangkok – Jakarta.

Awalnya yang jadi tujuan wisata adalah kota Beijing dan Shanghai, semua juga tahu kalo ibukota China adalah beijing tapi pusat bisnis ada di Shanghai. Tapi setelah browsing-browsing, nemu blog-blog orang yang menceritakan perjalanan ke China Utara dengan rute Tianjin – Beijing – Shanghai – Hangzhou. Empat kota sekaligus.

Setelah berdiskusi dengan travel-mate ku, dimas, kami memutuskan untuk ke tiga kota saja, Beijing – Shanghai – Hangzhou. Tianjin kami coret karena Tianjin adalah kota industri yang sepertinya biasa saja. Dengan rute seperti itu, berarti tiket yang kami buru adalah Jakarta – Beijing dan Hangzhou – Jakarta.

Image

Sebelum mencari tiket murah, yang harus diperhatikan untuk liburan ke negara 4 musim seperti China adalah bulan apa aja setiap musimnya dan berapa suhunya. Untuk China ini nih musim dan suhunya:

Musim Panas : Juni – Agustus (dengan suhu 24℃-43,5℃)
Musim Gugur : September – Oktober (dengan suhu 10℃-15℃)
Musim Dingin : November – Maret (dengan suhu di bawah 0℃)
Musim Semi : April – May (dengan suhu 12℃-14℃)

Setelah tau ini, baru bisa menentukan kita mau liburan di musim apa. Untuk aku sih, musim apa aja asal jangan summer, ngapain coba jauh-jauh ke negara 4 musim kalo nemunya suhu kayak di Indonesia? Males.

Awal September 2013, Air Asia ada promo gila-gilaan, langsung kami mencari tiket tersebut di atas (lah kok a la nota dinas, haha), ternyata tiket ke China itu ya ga promo-promo banget, ga ada yang Cuma 400 ribu PP kek ke Singapur gitu.

Tiket di bulan April (masuk musim semi) ga ada yang promo, karena suhu tak begitu dingin, mulai rame yang liburan, tiket di Desember-Januari juga mahal karena sedang turun salju, turis-turis yang belum pernah ngerasain salju kayak kita datang berbondong-bondong. Sebenernya pengin juga ngerasain salju, tapi bayangin suhu minus itu kok kayaknya perih ya. *alesan ga kebeli tiket*.

Akhirnya dapet lah kita tiket di musim-musim nanggung, yaitu awal Maret, winter udah mau ke spring. Lihat di prakiraan cuaca sih suhunya 0 sampe 10. Insyaalloh kuat lah ya suhu segitu. Harga tiketnya PP 2,5 juta. Lumayan murah.

Walau awalnya hanya merencanakan pergi berdua, tapi akhirnya kami beli tiket untuk bertiga, aku, dimas, dan baim. Baim ini kami tawarkan mau ikut apa engga, tanpa nanya kapan dan berapa harganya, dia langsung mau aja. Ya iyalah ga perlu nanya harga, honor tahunan dari APBN nya aja melebihi gaji dan tunjangan dia setahun, haha.

Ngomong-ngomong soal travel mate ini, yang namanya mate kita harus bener-bener seiya sekata loh, harus bener-bener cocok. Kalo pergi liburan jauh sih bagiku paling ideal adalah 4 orang. 4 orang itu udah pas banget. Kalo harus naik taxi bisa Cuma dengan 1 taxi dengan argo yang dibagi 4, jadi murah kan. Tetep ya ujungnya di kata murah. Haha

Travel mate ideal itu ga lelet, bisa bangun pagi, mau jalan agak jauh, ga ngeluh, ga nyalahin temen kalo salah buat keputusan, ga rempong soal makanan, kalopun rempong dia bisa menahan diri sendiri karena kelaperan.

Setelah tiket di tangan, yang jadi PR adalah menunggu saatnya tiba. Dari September 2013 sampe ke Maret 2014. Hmm lama juga ya.

Teater pertama 2013: Sangkuriang

Tahun 2012 bukanlah tahun yang hebat untuk pertunjukan drama/teater atau drama/teater musikal. Belum ada yang bisa mengalahkan Ali Topan Musikal garapan Ari Tulang atau drama tari Matah Ati pada tahun 2011. Satu-satunya teater yang  saya anggap bagus adalah Gandamayu. Itu pun tak sebagus dua yang saya sebutkan di atas.

Mengawali tahun 2013, di awal Februari ada dua teater yang tayang. Sangkuriang dan Ken Dedes. Dua teater ini tayang di saat yang bersamaan, Sangkuriang di Teater Jakarta dan Ken Dedes di Gedung Kesenian Jakarta. Sebenarnya saya sangat penasaran ingin menyaksikan Ken Dedes yang diperankan oleh Inul Darastista. Namun 2 minggu sebelum pertunjukan, tiket termurahnya –100,000– sold out. Yang tersisa hanya tiket 200,000 ke atas. Belajar dari pengalaman, membeli tiket pertunjukan senilai 200,00 ke atas sering kali menyeret penyesalan di belakang. Yang terakhir dan paling saya ingat adalah musikal karya Titiek Puspa dan Ari Tulang “Semut Merah dan Semut Hitam”, tiket termurahnya seharga 250,000 dan yang saya dapat adalah sampah. Akhirnya, aku memutuskan untuk beli tiket Sangkuriang saja yang masih ada harga termurahnya, 100,000 rupiah.

Dayang Sumbi dan 3 Dayang

Sangkuriang diperankan oleh Farman Purnama dan Gabriel Harvianto (bergantian sesuai jam tayang) dan Dayang Sumbi diperankan oleh Sita Nursanti. Kisah Sangkuriang diceritakan sama persis seperti cerita rakyat yang selama ini kita tahu. Bedanya cerita yang saya tahu bapaknya (Tumang) adalah siluman anjing, sedangkan di sini digambarkan siluman yang mirip Gollum.

Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Musikal Sangkuriang hadir dalam 1 Jam 30 Menit, termasuk singkat untuk drama musikal. Cerita yang disajikan hanya fokus pada konflik utama, tidak ada konflik tambahan yang membumbui cerita utama.

Dalam musikal ini, hanya sekitar 5% naskah yang dibawakan dalam monolog/dialog, 95% nya dalam nyanyian. Kualitas Sita Nursanti sebagai pemain teater semakin baik, artikulasinya jelas sekali walau saya ada di baris lantai 3 panggung. Sementara Farman Purnama masih ada kata-kata/kalimat yang tidak jelas terucap. Yang paling sering tidak jelas artikulasinya adalah pemeran pimpinan dari para dedemit, mungkin juga karena wajahnya yang dibalut topeng.

Pimpinan Dedemit

Paduan suara Universitas Katholik Parahyangan yang mengiringi musikal ini lumayan memuaskan telinga. Dan yang oke adalah lantunan merdu sinden yang menutup pertunjukan sangkuriang.

Well, Musikal Sangkuriang bukanlah satu pertunjukan yang memuaskan, namun juga jauh dari kesan mengecewakan. ya..sepadan dengan rupiah 100,00 yang saya keluarkan.

Nah ini bukti saya nonton saja ya, bukan pamer foto artis. hehe

Mengapa Apartemen (2)?

Pancoran Riverside (PR) adalah salah satu apartemen yang ikut program subsidi pajak. Jadi harga jualnya 144 juta saja. tanpa pajak. tapi ditambah 5 juta karena aku memilih city view.

PR lokasinya dekat dengan komplek DPR kalibata, tidak jauh dari Apartemen kalibata City. Dulu memilih PR karena PR adalah satu-satunya apartemen terjangkau yang benar-benar di tengah Jakarta. kemana-mana jadi gampang. Pengembang PR adalah PT Graha Rayhan, pemain baru di Jakarta. Selama ini mengembangkan properti di Padang. PR ini sangat islami loh, di brosurnya tercetak tulisan “Insya Alloh serah terima September 2009”.

Setelah membayar booking fee pada Agustus 2008, aku harus melunasi DP yang dicicil selama 5 bulan. Jadi pada Januari 2009 DP sudah lunas, Februarinya bayar city view. Aku tinggal menunggu saatnya interview KPA dengan pihak bank.

Waktu itu aku beli berdua dengan teman kantor dan juga teman kuliah dulu, Soe. Dan Februarinya ada lagi teman kantor (Baim) yang ikut ambil.

Tahun 2009 berlalu, PR belum juga jadi. Padahal Ground Breakingnya diresmikan oleh Menteri Perumahan Rakyat.

Akhir 2010, PR belum juga selesai dibangun. Aku, Soe, Baim, mulai kecewa dengan Graha Rayhan.

Pada 2010 itu juga ada proyek apartemen di Matraman dan Rawasari. Aku pikir kok dua apartemen ini lebih dekat ya dengan kantor dan kosan. Lokasinya juga lebih akrab.

Akhirnya karena PR tidak kunjung selesai dan tertarik dengan dua apartemen baru, kami bertiga memutuskan untuk menarik DP yang sudah kami bayar. Dan ternyata DP bisa dikembalikan namun dengan potongan 10% dari uang yang sudah masuk. Berarti akan rugi 3 jutaan. Duh padahal uang dua tahun lalu itu harusnya bisa bertambah, eh malah berkurang. Karena malas untuk berdebat dangan Graha Rayhan, akhirnya kami setuju saja. Pikir kami ya sudahlah anggap saja kegagalan berinvestasi.

Di antara Salemba Batavia Matraman (sekarang Menteng Square) dan Green Pramuka Rawasari, Salemba Batavia lebih dekat ke kantor dan lebih tengah kota. Namun Salemba Batavia lahannya sangat kecil dan sangat mepet dengan jalan raya. Berbeda dengan Green Pramuka yang punya lahan besar dan mengusung konsep Go Green. Dari sisi harga, pada saat itu Salemba Batavia 250 juta dan Green Pramuka 200 juta. Kedua apartemen menjanjikan serah terima akhir Desember 2012.

Dan aku memilih d’Green Pramuka. Diikuti dengan Baim. Sementara Soe pada waktu itu menahan diri untuk beli properti karena akan segera menikah. Aku dan Baim dapat di Tower Faggio lantai 20.

d’Green Pramuka, “The” yang diganti dengan “d” menggambarkan tunas kelapa, lambang pramuka. makanya kalau nulis D’Green jadi salah. hehe penting ya?

d’Green ini dikembangkan oleh PT Dutaparamindo, aku juga tidak tahu sih rekam jejak perusahaan ini. Yang membuat aku yakin, mereka berani menunjukkan break down proyek mereka per bulan. Jadi benar-benar kita tahu apa saja yang dikerjakan setiap bulan dan bisa langsung kita awasi.

Selain itu, perusahaan ini sering sekali mengadakan gathering untuk pembelinya dan selalu ada artis yang menjadi bintang tamu. (terus??? haha)

Intinya, kami percaya sekali dengan d’Green.

Dua tahun menunggu d’Green jadi menjadi saat-saat yang sangat aku nikmati. Setiap bulan lewat lokasi selalu melihat adanya penambahan-penambahan pekerjaan.

Akhir 2011, bangunan fisik gedung sudah selesai sampai lantai 29.

23 November 2012, serah terima!

Bersyukur sekali saat dikasih kunci apartemen. Dan saat pertama kali membuka pintu apartemenku, kesan pertamanya adalah, “kecil banget!!!”, haha, padahal sudah tahu ya kalau unitnya memang hanya 33 m2 (gross). Tapi tetap bersyukur sih, apalagi saat tahu kalau harga jualnya sudah menjadi 350 juta. makin bersyukur!

Sempat menimbang-nimbang untuk menjual saja, bisa lah dijual dengan harga 330 juta. Untung 130 juta. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak deh.

Setelah satu bulan mengisi properti apa adanya sesuai kantong, tanggal 23 Desember aku resmi menjadi penghuni d’Green. Mudah-mudahan manajemennya benar ya, biar aku betah di sana. Amin.

Postingan selanjutnya akan aku tampilkan semua gambar apartemenku, luar dalam. Tunggu ya. Be Afraid.

Mengapa Apartemen?

Sejak tahun 2008 — tiga tahun bekerja — aku sudah mulai memikirkan kebutuhan papan. waktu itu pikirku malas saja kalau harus ngekos terus, sayang kan 500 ribu perbulan.

Sejak awal 2008 aku sudah keliling beberapa tempat untuk melihat rumah. Ke tempat Masku di Tigaraksa, ke Depok, dan rumah-rumah dalam gang Jakarta yang dijual murah. Waktu itu harga rumah sekitar 170 jutaan untuk tipe 36 di GDC Depok (sekarang sudah 270 juta). Pada tahun itu memang mampunya hanya rumah dengan harga segitu, jangan lebih dari 175 juta mengingat DP minimal 20% dan KPR yang diapprove hanya cicilan dengan 1/3 THP. Kendalanya karna masih single jadi tidak bisa joint income.

Pada tahun itu juga, pemerintah sedang menggalakkan program apartemen subsidi (bebas pajak) yang harganya tidak boleh melebihi 144 juta. Mulailah aku menimbang dan membandingkan rumah versus apartemen.

Tidak dapat dipungkiri rumah pasti menjadi pilihan utama, karna kebiasaan tinggal di kampung yang punya tanah lebar, rasanya kok aneh kalau harus tinggal di apartemen. Tidak punya tanah, halaman rumah, tidak hak milik, harus bayar biaya pemeliharaan, kalau ada gempa bisa mati ketimpa bangunan, dan sebagainya.

Tapi, setelah kunjungan ke lokasi rumah-rumah itu, aku merasa badanku tidak kuat kalau harus Pulang-Pergi berjam-jam setiap Senin–Jumat. Aku hitung-hitung waktu yang dibutuhkan sekitar 3-4 jam di jalan per hari. padahal kos — kantor yang PP hanya 40 menit pun kadang buat aku emosi. Apalagi Jakarta makin hari pasti makin ramai kendaraan. waktu tempuh setiap tahun pasti akan bertambah. Ongkos yang akan dikeluarkan pun tidak murah, paling murah 10 ribu kalau naik motor sendiri dan 20 ribu kalau naik kereta. Belum lagi ditambah biaya pijatnya, hehe. Aku pikir ongkos itu sama saja dengan biaya pemeliharaan apartemen. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari apartemen saja sambil mempelajarinya.

Untuk rumah-rumah di gang Jakarta sudah aku coret dalam daftar karena tidak bisa KPR, bank maunya KPR untuk rumah yang aksesnya bisa masuk mobil.

Dari hasil kunjungan ke pameran-pameran apartemen dan browsing internet, aku jadi tahu kalau banyak apartemen yang sekarang bukan Hak Guna Bangunan, tetapi Strata Title.

Seperti orang-orang lain yang tidak terlalu mengerti, awalnya aku pikir apartemen hanya hak guna bangunan, dan dalam pikiranku jika hak bangunan 30 tahun, maka setelah 30 tahun apartemen tidak lagi bisa aku gunakan, sudah menjadi milik orang lain. Nyatanya banyak sekali klausul-klausul dalam hak guna bangunan itu sendiri. Nyatanya lagi, sekarang banyak apartemen yang hak milik strata title. Silakan googling sendiri ya, panjang kalau mau dijelasin, hehe.

Akhirnya pada Agustus 2008, aku memutuskan bahwa yang sesuai dengan kebutuhanku pada saat itu adalah Apartemen. Alasanku hanya satu sih, aku mau yang dekat dengan kantor karena dalam satu minggu aku lima kali ke kantor. Segala kekurangan apartemen insya allah bisa aku terima. Pada Agustus 2008 itu aku membayar tanda jadi untuk beli Apartemen Pancoran Riverside di Pengadegan, Kalibata.

Memilih apartemen atau rumah memang adalah pilihan pribadi. Kita sendiri yang tahu apa yang kita butuhkan dan kemampuan kita. Kalau ditanya ideal sih setiap orang inginnya rumah, ada tanah dan halaman, tapi realistis saja dengan kondisi Jakarta. Banyak sih yang bertanya dengan nada tidak enak, “kok apartemen sih? kan ga ada tanahnya?” eh tapi sejak kapan aku peduli dengan omongan orang. haha.

Lebih indah pasti ya kalau yang punya rumah tidak ngomong “apartemen kan ga punya tanah, ga bersosialisasi dengan tetangga, bla bla bla”,

yang punya apartemen tidak ngomong “Gila rumahmu jauh banget, subuh berangkat kerja, pulangnya isya”,

Dan lebih indah lagi kalau nantinya aku punya keduanya. hehe. amin.

Air Putih Hangat

Cerita dua tahun lalu.

Seseorang yang menjadi cinta pertamaku menghubungiku lewat Facebook karna ia akan berada di Jakarta, sebelum ia menikah. Aku senang bukan kepalang, ialah perempuan cantik dan pintar yang aku kagumi saat aku kelas 6 SD. Kami tidak bersekolah di SD yang sama, perkenalan berawal dari seringnya bertemu pada ajang perlombaan antar SD. Dan akhirnya kami tahu kalau jarak rumah kami tidak terlalu jauh. Aku sering ke rumah ia, ia sering ke rumahku. Aku menyimpan foto ia, ia menyimpan fotoku.

Meski teman-temanku dan teman-temannya mengatakan kami adalah sepasang kekasih, tapi sampai saat ini kami tidak pernah saling bicara cinta. Seberapa jauh sih pengetahuan anak kelas 6 SD tahun 90an tentang cinta? dan waktu itu sama sekali tidak tahu dengan istilah “nembak” dan “jadian”.

Aku lebih senang mengatakan kalau kami berteman baik, meski ia benar cinta pertamaku. Itu pun hanya sekitas satu tahun. Kami tidak bersekolah pada SMP dan SMA yang sama, hubungan pertemanan yang tadinya “beda” pun menjadi sangat biasa.

Sepulang kantor aku menjemput ia di rumah sahabatnya di Kemayoran. Ia bersama sahabatnya menungguku di depan jalan. Ia terlihat tak secantik waktu kelas 6 SD dulu, namun gurat kecantikan masa kecil itu tetap ada. Ia meminta aku menemaninya ke Mall Kelapa Gading, tanpa sahabatnya.

Kami mengelilingi Mall, makan, dan mendengarkan live music. Lalu Handphone ia pun berdering, dia berbicara dengan seorang lelaki. bla bla bla. Aku pura-pura tak mendengar pembicaraan mereka.

Handphone ia tutup dan ia bilang :”itu tunanganku, sebentar lagi aku menikah.”, aku tersenyum, aku ikut bahagia dengan apa yang dialaminya –bertunangan dan segera menjadi istri seseorang–, kemudian dia melanjutkan: “tadi ia tanya aku sama siapa, trus aku bilang aku sama temenku, gapapa kan?”. Aku(kaget):”loh, emang kita temen kan.”, ia mengangguk:”eh iya ya.”.

Seketika pikiranku jadi kemana-mana, apakah ia menganggapku beda dengan teman-temannya? apakah benar ia ada rasa denganku? apakah aku harus tanya? apakah aku harus bilang dulu aku jatuh cinta dan mungkin rasa itu sebentar lagi kembali?

Tapi aku diam saja. ia sudah bertunangan, tidak perlu bicara macam-macam.

Pukul sebelas malam aku sampai di rumah sahabatnya, mengantarkan ia yang bahagia karna sudah tahu daerah kelapa gading. Yang aku ingat malam itu begitu dingin, kami berdua sampai rumah itu dalam keadaan kedinginan. Aku dipaksa sahabatnya duduk dulu, tidak boleh langsung pulang. Aku dan ia duduk di ruang tamu, sahabat ia datang dengan sangat ramah membawa air putih hangat. “Ini minum air hangat biar badannya enak”. Air putih hangat itu enaknya luar biasa.

Lalu aku menjadi merasa benar-benar tenang, entah karna sepulang dari pergi berduaan dengan cinta pertama sebelum ia menikah, atau karna sahabat ia yang sangat ramah, atau hanya karna air putih hangat itu.

entahlah.

Dan
Kemarin ia menyapa di Facebook, bilang kalau ia sudah melahirkan, lalu ia bertanya “kamu kapan nikahnya???”
sekali lagi, entahlah.

*buru-buru ambil air hangat*

Chapter 1 : it’s over when it’s over

Aku mengangeninya
saat kita BBM-an padahal dia sedang di dalam bioskop, dan aku bilang :”ya udah nonton aja dulu”, lalu dijawab :”filmnya udah sejam ko”.

saat dia BBM “Aku pulang dulu, jam 7 aja jemput di kosan, BBM kalo udah nyampe.”

saat aku tanya “kita lewat mana?” lalu dia jawab “gw ga tau, gw kan biasanya naik angkot”

saat dia bilang “duh gw kek gembel gini”, aku iya-kan, dan dia bilang “eh,,Iya lagi.”

Aku mengangeni semua yang tlah aku lalui bersamanya.
Yang tak mungkin tercipta lagi.

kini aku namakan semua itu “kenangan”.
Semua sudah berakhir.

dan aku baik-baik saja.
karna masih ada Matahari yang selalu bersinar.