Air Putih Hangat

May 23, 2011

Cerita dua tahun lalu.

Seseorang yang menjadi cinta pertamaku menghubungiku lewat Facebook karna ia akan berada di Jakarta, sebelum ia menikah. Aku senang bukan kepalang, ialah perempuan cantik dan pintar yang aku kagumi saat aku kelas 6 SD. Kami tidak bersekolah di SD yang sama, perkenalan berawal dari seringnya bertemu pada ajang perlombaan antar SD. Dan akhirnya kami tahu kalau jarak rumah kami tidak terlalu jauh. Aku sering ke rumah ia, ia sering ke rumahku. Aku menyimpan foto ia, ia menyimpan fotoku.

Meski teman-temanku dan teman-temannya mengatakan kami adalah sepasang kekasih, tapi sampai saat ini kami tidak pernah saling bicara cinta. Seberapa jauh sih pengetahuan anak kelas 6 SD tahun 90an tentang cinta? dan waktu itu sama sekali tidak tahu dengan istilah “nembak” dan “jadian”.

Aku lebih senang mengatakan kalau kami berteman baik, meski ia benar cinta pertamaku. Itu pun hanya sekitas satu tahun. Kami tidak bersekolah pada SMP dan SMA yang sama, hubungan pertemanan yang tadinya “beda” pun menjadi sangat biasa.

Sepulang kantor aku menjemput ia di rumah sahabatnya di Kemayoran. Ia bersama sahabatnya menungguku di depan jalan. Ia terlihat tak secantik waktu kelas 6 SD dulu, namun gurat kecantikan masa kecil itu tetap ada. Ia meminta aku menemaninya ke Mall Kelapa Gading, tanpa sahabatnya.

Kami mengelilingi Mall, makan, dan mendengarkan live music. Lalu Handphone ia pun berdering, dia berbicara dengan seorang lelaki. bla bla bla. Aku pura-pura tak mendengar pembicaraan mereka.

Handphone ia tutup dan ia bilang :”itu tunanganku, sebentar lagi aku menikah.”, aku tersenyum, aku ikut bahagia dengan apa yang dialaminya –bertunangan dan segera menjadi istri seseorang–, kemudian dia melanjutkan: “tadi ia tanya aku sama siapa, trus aku bilang aku sama temenku, gapapa kan?”. Aku(kaget):”loh, emang kita temen kan.”, ia mengangguk:”eh iya ya.”.

Seketika pikiranku jadi kemana-mana, apakah ia menganggapku beda dengan teman-temannya? apakah benar ia ada rasa denganku? apakah aku harus tanya? apakah aku harus bilang dulu aku jatuh cinta dan mungkin rasa itu sebentar lagi kembali?

Tapi aku diam saja. ia sudah bertunangan, tidak perlu bicara macam-macam.

Pukul sebelas malam aku sampai di rumah sahabatnya, mengantarkan ia yang bahagia karna sudah tahu daerah kelapa gading. Yang aku ingat malam itu begitu dingin, kami berdua sampai rumah itu dalam keadaan kedinginan. Aku dipaksa sahabatnya duduk dulu, tidak boleh langsung pulang. Aku dan ia duduk di ruang tamu, sahabat ia datang dengan sangat ramah membawa air putih hangat. “Ini minum air hangat biar badannya enak”. Air putih hangat itu enaknya luar biasa.

Lalu aku menjadi merasa benar-benar tenang, entah karna sepulang dari pergi berduaan dengan cinta pertama sebelum ia menikah, atau karna sahabat ia yang sangat ramah, atau hanya karna air putih hangat itu.

entahlah.

Dan
Kemarin ia menyapa di Facebook, bilang kalau ia sudah melahirkan, lalu ia bertanya “kamu kapan nikahnya???”
sekali lagi, entahlah.

*buru-buru ambil air hangat*

Advertisement

3 Responses to “Air Putih Hangat”

  1. Gugun Says:

    Gw sih pengennya komen di orang yang sama,artikel yang sama, objek yang sama, chapter yang berkelanjutan.
    Tapi apa dikata, temen gw ternyata masih membuat banyak chapter 1 untuk banyak cerita yang berbeda-beda,hehehe

  2. adiktw Says:

    Besok aku akan menulis utk mengakhiri si chapter 1. SO YESTERDAY!!

  3. Gugun Says:

    hehe,gw tunggu aja lah ceritanya.
    gw akan kasih komen yang lebih “purbakala” lagi :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.