[2004] pada sebuah kereta Palembang – Lubuklinggau

Ugh,,,lega sekali rasanya ketika ujian berakhir, apalagi bagi kami mahasiswa kos-kosan, ini bukan saja kami lepas dari tekanan ujian tetapi juga lepas dari status ngekos sementara. ya, kami bisa m.u.d.i.k.

Kebanyakan orang Lubuklinggau lebih memilih menggunakan kereta api daripada travel, dengan kereta malam kita cukup tidur semalaman dan subuhnya kita sudah bisa menghirup kesejukan Linggau. Tapi, yang namanya transportasi favorit, kita harus memesan tiketnya dari jauh hari, kalau tidak pilihannya adalah, [1] Gerbong tambahan, [2] Kereta makan, [3] Tiket berdiri, atau [4] bayar pucuk (tidak pakai tiket, hanya membayar pada petugas).

Hal inilah yang kami alami, saya, adit, dan redi tidak mendapatkan tiket, akhirnya kami pakai pilihan ke [4]. Sungguh ramai sekali, kami menyusuri tiap gerbong untuk mendapatkan tempat duduk, dan pada akhirnya saya mendapatkan satu tempat di depan dapur kereta makan, tempat yang sangat tidak strategis, yang di depannya banyak sekali petugas kereta yang berkumpul. Sementara adit dan redi tidak berhasil, mereka duduk beralaskan koran di bawah di penghubung gerbong kereta.

Saya duduk dan merasa sangat ngantuk, kanan kiri saya orang tua, di depan saya ada petugas kereta, polisi, dan pelayan restaurant kereta. Karena tempat duduk saya sama sekali tidak strategis, jadi terkesan kalau saya sedang memandangi petugas-petugas itu. Saya sempat tertidur, dan pada saat terbangun ternyata tempat duduk di sebelah saya kosong. Belum sempat saya memanggil adit atau redi untuk duduk, ternyata seorang polisi yang tadi duduk di depan saya mengambil tempat duduk itu, dia duduk dan tetap melanjutkan cerita dengan teman-temannya yang duduk di hadapan kami.

Lelaki itu mengajak saya berbicara, dia bertanya apakah saya asli Palembang atau Lubuklinggau, di Palembang kuliah atau kerja, dimana, jurusan apa, dan pertanyaan-pertanyaan yang bisa saya jelaskan lewat CV. Pembicaraan satu arah antara kami berakhir, lelaki itu membentangkan koran dan posisi koran itu menutupi kaki saya, dan ia mulai membaca, sedangkan saya mencoba tidur kembali.

Saya memang tertidur.

Lelaki itu meletakkan tangannya di paha saya yang ditutupi koran, kemudian mengelus-elus paha saya.

Saya di antara mimpi dan nyata.

Lelaki itu melanjutkan aksinya, paha saya diremas dengan begitu keras.

Saya terbangun dan kaget.

Kemudian lelaki itu berkata “guncangan keretanya kenceng banget!”

Saya masih di antara mimpi dan nyata, apa benar barusan tadi lelaki ini melecehkan saya? Saya dag-dig-dug, bingung, dan tetap diam saja, kali ini saya pura-pura tidur, dan

Lelaki itu dengan sangat berani kembali meletakkan tangannya di paha saya,

Saya tetap pura-pura tidur

Kemudian lelaki itu menaikkan posisi tangannya dan mencoba membuka resliting jeans saya.

Saya yang sangat bodoh ini terbangun, kaget, berdiri, dan meninggalkan si polisi, mencari adit dan redi.

==>

Saya tidak menceritakan kejadian itu langsung ke adit dan redi, saya shock, saya tidak berani lagi naik kereta api sendirian.

[2007] Mangga Dua Square

Saya menemani yudha ke Nokia Care Mangga Dua Square, letaknya lantai paling atas, sama dengan counter-counter HP. Saat itu sedang ada show di lantai 1. Mangga dua yang terkenal dengan kaum chinese-nya, shownya pun tidak jauh dari nuansa merah dan barongsai. Saat yudha berkutat dengan HP-nya, saya dari atas berdiri di pagar (entah apa namanya) yang bisa melihat ke show yang ada di bawah.

Seorang laki-cina-putihbanget-pakecelanapendek-umursekitar25 menghampiri saya, dan bertanya, “shownya udah mulai dari tadi?”,

dan saya dengan cueknya, “engga tahu!”

Dia bertanya lagi, “emang tinggal dimana?”, saya jawab seadanya, kemudian dia bertanya lagi dan lagi pertanyaan yang sama sekali tidak penting, saya bolak-balik melihat ke arah yudha, berharap dia cepat selesai dan menghampiri saya agar saya lepas dari pembicaraan yang membosankan ini.

Yudha lama sekali sampai akhirnya koko itu merayu saya,

“mau ngga ikut saya ke apartemen di atas yuk”

(FYI, di mangga dua square itu gedungnya terhubung ma Novotel, Jitec, dan ada Apartemennya juga)

Anjrit,,,koko ini ternyata tajir, saya sempat menimbang-nimbang untuk ikut dengan orang kaya ini,

“Yuk lewat sini,,,,” Dia menarik saya,

Saya sempat ikut beberapa langkah sebelum akhirnya saya bilang, sambil menunjuk yudha,

“Maaf itu teman saya menunggu,,,,”

  • kaburrrrrrrrr,,,,,

[2008 Awal] Mercure Hotel, Kota

Karena weekend itu membosankan kalau tidak keman-mana, maka saya pergi menghabiskan malam di Hotel Mercure bersama Nopran dan Yudha, lumayan ada voucher gratis dari kantor.

Jam 08, saya menuju restaurant untuk sarapan pagi bersama yudha,

(btw, kenapa dengan yudha saya sering sekali mengalami hal-hal luar biasa sepeti ini??)

Kami masuk ke lift menuju lantai restaurant, ada orang empat di dalam lift itu, di antaranya seorang lelaki dan perempuan yang entah mereka pasutri atau bukan.

Di restaurant, saya dan yudha duduk di satu meja yang view saya lurus ke arah pasangan yang tadi di lift. Saya makan seperti biasa, dan pada saat saya memandang ke lelaki yang mungkin suami dari perempuan di sebelahnya itu, lelaki itu mengedipkan sebelah matanya dan melihat ke arah saya. Saya kaget, dan melihat apakah di belakang saya ada perempuan, ternyata tidak ada!

Saya kembali melihat lelaki itu, kali ini dia memainkan lidahnya, dan mencoba menggoda dengan senyuman yang dia pikir itu bagus. Saya cuek dan bilang ke yudha, yudha malah tertawa puas melihat saya sedikit takut. Saya berusaha tidak melihat lelaki itu, hanya saja sangat sulit karna pandangan saya otomatis ke sana, karna tidak mungkin saya melihat ke piring terus!

Dan pada saat saya melihat ke arah lelaki itu lagi, diamengangkat tangan kanannya, menjulurkan jari jempol dan kelingking ke arah telinga dan bibir seolah bertanya,

“Nomor telepon lo berapa??!”.

Saya semakin takut dan cepat-cepat kembali ke kamar.

[2008 Akhir] Trans Jakarta

Taufik, teman dari Palembang minta ditemani mencari notebook di Mangga Dua Mall, Saya dan Nopran menemaninya ke sana dengan menggunakan Trans Jakarta. Seperti biasa, kita tidak mendapatkan tempat duduk, berdiri di dekat pintu tengah Bus.

Kami tidak berhenti ngerumpi ini itu, sampai akhirnya di sekitar Golden Truly, ada seorang anak lelaki yang mencubit kaki saya. Anak itu sekitar 12 Tahun, mungkin kelas 6 SD, dia bersama seorang lelaki 40-an yang kami yakini bukan orangtuanya karna lelaki itu tidak keren sama sekali padahal anak itu kelihatan seperti borju.

Anak lelaki itu mencubit saya lagi, saya pelototin, dan dia malah senyum-senyum. Saya bilang ke Nopran dan Taufik, Kemudian anak itu menginjak sepatu saya dan saat saya lihat lagi anak itu dengan sok manisnya main mata ke saya.

Astaghfirullah,,,

Tunggu 5 taun lagi ya dek,,,

Dan kejadian itu terus berlanjut sampai kami turun bus.

.::.

Itu semua kejadian yang gw alami pada saat gw masih bego, kalo sekarang gw udah tahu cara untuk menikmatinya, hihi, but why yah,,in the name of the dunia gila-gilaan ini always put me to exist, trus kenapa ga ada yang kek aura kasih dateng ke kamar gw dan langsung menelanjangi dirinya sendiri? knapa? knapa? Tapi kalo dipikir-pikir, ternyata gw ini penuh pesona juga, sampai segitunya orang-orang itu,,,,

ugh,,,coba kalo yang megang-megang paha, ngajak ke apartemen, minta nomor telepon, dan nyubit-nyubit itu,,,,,,

,,,,,,,,,

,,,,,,,,,

Koko deni,,,,

,,,,,,

:) :) :)

5 Responses to “[cuz sometimes] life needs a ‘lil controversy”

  1. Koko deni Says:

    hancur hati ambo

  2. Kiky Says:

    Di Penutup, “Itu semua kejadian yang gw alami pada saat gw masih bego”. Garis bawahi kata BEGO.

    Cuma 1 pertanyaan. Yakin? Yang 2004 nya masih mungkin kali y? Tapi yang 2007, apalagi 2008, hohohoho. Sekali lagi, Yakin? :P

  3. Nopz Says:

    Xixixi…
    Kayak yg pernah ku sampaikan sehabis peristiwa busway
    “pancarkanlah aura pada frekuensi yg tepat”
    Btw kayaknya ceritanya cm dr satu arah deh, yg lain mn? :p

  4. adik Says:

    @kokodenipalsu : ngomong sama tangan! :)
    @q :Sumpeh loh? eh cakmano proyek rumah kito tuh? *ngeless mode on

    @nop : susah ya bu,,pasang susuk itu udah sepaket! Anak itu aja yg “meletik” hehe


Leave a Reply